Sering di depan rumah banyak anak-anak kecil bermain di jalanan, kebanyakan anak-anak tetangga bersama teman sekolahnya yang lagi datang untuk main. Kadang anakku juga ikutan berlarian di depan. Suatu hari aku beli beberapa ice cream untuk dibagikan kepada mereka, agar mainnya tambah asik. Tapi beberapa saat kemudian aku tercengang, banyak anak dengan langsungnya membuang bungkus ice ke jalanan. Anak anak itu sekolah di sekolah-sekolah terbaik di kota ini, bukan termasuk anak-anak bandel, dari keluarga baik-baik, beberapa di antaranya aku tahu bahkan mempunyai prestasi bagus di sekolahnya.
Tetapi kok tidak mempunyai kesadaran tentang membuang sampah di tempatnya. Bukannya sok, tetapi itu suatu hal yang sangat mendasar tentang kepedulian terhadap lingkungan. Lama aku berpikir, apa yang salah ada di sistem pendidikan ? atau dalam keluarga ?
Dari sekolah pasti sudah diajarkan tidak boleh buang sampah sembarangan, tapi dari pengalaman antar anak ke sekolah di pagi hari, kuamati keadaan sekolah yang penuh sampah, apa mungkin petugas kebersihan kurang rajin menyapu, lalu kulihat seorang murid yang baru membeli mainan di luar, membuka bungkus mainannya, dan langsung dibiarkan jatuh ke tanah..oh my..meskipun disapu tanpa henti pasti tidak akan pernah bersih.
Jika saja daku bisa usul ke pengurus yayasan, adakan kerja bakti, bergiliran untuk setiap kelas, setiap anak dipinjami sarung tangan, sapu, penjapit sampah, tempat sampah, membersihkan halaman sekolah. Dengan demikian para murid bisa punya kesadaran, eh…aku ga akan buang sampah lagi ah…..biar ga usah capek-capek bersihkan, lebih lanjut lagi malah bisa memperingatkan sesama teman..eh buang di tempat sana lho…biar sekolah kita bersih.
Perlu juga diberitahukan kepada anak kalau tidak ada tempat sampah, apa yang harus dilakukan. Di Singapore dan Taiwan, sudah sangat terbiasa mengantongi lagi bungkus permen jika di sekitar kita tidak didapati tempat sampah, sampai nanti kita melewati tempat yang ada tempat sampahnya baru dibuang.
Dan yang tidak kurang pentingnya adalah dari keluarga, ortu harus lebih dulu punya kesadaran yang cukup. Jadi sering mengingatkan anaknya agar tidak buang sampah sembarangan. Pernah sekali seorang teman yang sudah tinggal bertahun-tahun di luar negeri sedang pulang dan kujemput untuk jalan-jalan, di tengah perjalanan dengan santainya dia buka kaca mobilku dan membuat satu kantong plastik berisi sampah ke pinggir jalan sampai daku hampir kaget berteriak, eh itu ada tempat sampah di dalam mobil. Tak habis pikir kutanya dia, bukannya di sono sangat bersih dan tidak boleh buang sampah sembarangan. Iyah, jawabnya tapi di Indonesia khan ga pa pa. Oh, jadi boleh atau tidak ditentukan oleh di mana, ada tidaknya peraturan, ada tidaknya denda ? Konsep yang keliru sekali.
Sudahkan anak anda (atau anda) membuang sampah dengan benar ?
Just a lil thought….
Mojoville, June 2009.
Showing posts with label filosofi. Show all posts
Showing posts with label filosofi. Show all posts
Thursday, June 4, 2009
Tuesday, April 21, 2009
Makanan yang berarti
Ada banyak cara untuk mengenang suatu tempat, ada petualang yang mengambil pasir dari setiap pantai yang pernah disinggahinya, ada yang membeli tempelan magnetic untuk pintu kulkas di setiap Negara yang dikunjunginya, wisatawan jepang yang gemar mengklik camera ke setiap scene yang dilihatnya, sebagian terus melihat monitor LCD di handycam yang selalu disorotkan sehingga lupa untuk menikmati pemandangan indah asli yang sesungguhnya, dan banyak lagi..
Daku percaya salah satunya adalah makanan.
Makanan yang menyimpan kenangan, akan terasa lebih nikmat karena mempunyai makna tersendiri.
Beberapa saat lalu tiba-tiba muncul kerinduan yang sangat untuk merasakan kembali kacang kuah panas ditambah cakue, ingatan udara dingin di kota asal, ramai irama musik dari pertunjukan potehi di kelenteng, semerbak wangi kacang kuah merebak dari warung penjual di sebelahnya membuat perut ikut bergenderang. Atau gerimis tipis turun, mengibaskan jaket yang basah, cangkruk di depot di jalan Semeru, menunggu kacang kuah panas dihidangkan.

Atau di kala kuliah, di mana uang makan tinggal sedikit dan mulut tak kuasa membuka untuk memberitahu. Yang bisa dilakukan adalah cari makanan yang murah dan mengenyangkan. Seperti depot mie daging sapi yang menjadi favorit para pelajar, karena kuah dan mie boleh tambah sesuka hati sampai perut kenyang.

Dan aku percaya setiap makanan akan lebih sedap jika mempunyai arti ..tersendiri…
Daku percaya salah satunya adalah makanan.
Makanan yang menyimpan kenangan, akan terasa lebih nikmat karena mempunyai makna tersendiri.
Beberapa saat lalu tiba-tiba muncul kerinduan yang sangat untuk merasakan kembali kacang kuah panas ditambah cakue, ingatan udara dingin di kota asal, ramai irama musik dari pertunjukan potehi di kelenteng, semerbak wangi kacang kuah merebak dari warung penjual di sebelahnya membuat perut ikut bergenderang. Atau gerimis tipis turun, mengibaskan jaket yang basah, cangkruk di depot di jalan Semeru, menunggu kacang kuah panas dihidangkan.

Atau di kala kuliah, di mana uang makan tinggal sedikit dan mulut tak kuasa membuka untuk memberitahu. Yang bisa dilakukan adalah cari makanan yang murah dan mengenyangkan. Seperti depot mie daging sapi yang menjadi favorit para pelajar, karena kuah dan mie boleh tambah sesuka hati sampai perut kenyang.

Dan aku percaya setiap makanan akan lebih sedap jika mempunyai arti ..tersendiri…
Subscribe to:
Posts (Atom)