Suatu desa kecil di pinggiran kota Lumajang, perbatasan dengan kota Jember, ada sebuah rumah kuno yang berdiri sejak jaman Belanda. Di sana tinggal kakak beradik keturunan Cina. Kedua perempuan ini hidupnya sangat sederhana, berpenghasilan dari keahlian mereka menjahit bagi penduduk desa setempat. Hasil jahitan mereka terkenal
teliti dan halus, terutama bordiran tangan di sarung bantal ataupun sulaman di baju.
Kehidupan mereka yang sederhana, bahkan bisa disebut miskin, seakan menghapus mitos yang selama ini terbentuk bahwa warga keturunan selalu hidup berkecukupan. Ibu mereka adalah generasi ketiga yang lahir di negeri ini, meskipun warga keturunan ibu mereka selalu berkebaya, bersanggul, memang ada sebagian warga keturunan masa itu yang telah beradat Jawa.
Berkain dan kebaya, biasanya dengan kebaya atasan yang tipis menerawang, putih umumnya. Ibu mereka juga terkenal dengan keahlian menjahitnya inilah yang kemudian diwariskan kepada kedua anaknya.
Sang ayah telah meninggal sejak mereka berdua sangat kecil. Karena itu mereka harus berjuang sendiri mencari sesuap nasi, semasa mereka kecil kehidupan lebih sulit karena hanya ibunya seorang yang menjadi satu satunya yang bisa mencari orang, untunglah hubungan baik terjalin antara mereka dan seluruh penduduk desa, tak sedikit bantuan yang diberikan para tetangga yang merasa kasihan pada mereka, setelah kedua gadis itu bisa menjahit membantu ibunya maka perekonomian mereka pun beranjak membaik.
Rumah besar mereka masih sangat kuno dengan ruangan yang luas dan tinggi, dikelilingi oleh halaman yang luas dengan beberapa pohon mangga dan rumpun bambu di belakang rumah. Menurut penduduk, rumah itu tergolong angker karena banyak ‘penghuni’nya. Sarang Genderuwo, begitu menurut anggapan warga desa. Genderuwo adalah sejenis lelembut yang usil, seringkali menggoda manusia, kebanyakan penampakan sebagai makhluk tinggi besar hitam berbulu lebat bak gorila. Kedua kakak beradik itu tidak menyangkalnya, tetapi karena sejak lahir mereka tinggal di sana seakan terbiasa menghadapi hal hal yang demikian. Orang lain yang tidak kuat mentalnya pasti akan berpikir dua kali untuk tinggal di sana.
Suatu waktu ada seorang sepupu perempuan mereka yang datang berkunjung dari kota , karena kemalaman dia pun menginap. Waktu malam karena hendak buang air kecil ia pun ke WC. Seperti rumah tua pada umumnya, WC dibangun terpisah dengan bangunan induk, untuk menuju bangunan kecil yang digunakan sebagai WC haruslah melewati pekarangan rumah belakang.
Malam itu sang sepupu terpaksa memberanikan diri, setengah berlari menuju ke WC yang diterangi dengan lampu 10 watt yang berayun diterpa hembusan angin. Tengah jongkok menunaikan hajat, dilihatnya sesuatu benda kecil melintas cepat di sela daun pintu dengan lantai, pasti tikus…ia pun bersiap siap untuk berdiri dan berlari karena dia jijik terhadap jenis hewan pengerat itu.
Benda itu melintas lagi…berlari lari di depannya beberapa kali, tiba tiba berhenti di depannya, dipicingkan matanya untuk melihat jelas benda itu di bawah temaram lampu, astaga ternyata potongan tangan seorang bayi, terdiri dari pergelangan dan telapak tangan. Terbirit birit ia berlari menuju ke bangunan induk dengan teriakan yang membangunkan seisi rumah.
Kamar mandi mereka masih menggunakan bak besar, yang diisi dengan air yang ditimba dari sumur. Seringkali tengah malam terdengar orang yang sedang mandi, padahal kedua kakak beradik itu telah tertidur pulas. Keesokan harinya terlihat lantai kamar mandi dengan bak mandi yang kosong, padahal sore sebelumnya telah terisi penuh.
Pernah juga suatu malam sang adik pulang dari kondangan di desa sebelah, pada saat malam hari lewat pekarangan depan rumah, tepat di bawah pohon mangga yang besar, seakan air jatuh dari langit hujan lebat, sesaat saja dan hanya di atas kepalanya. Setelah tercium bau pesing , barulah dia sadar kalau itu adalah air kencing, seakan ada makhluk yang besar mengencinginya dari atas pohon.
Tetapi ada juga pengalaman yang sudah terjadi cukup lama, yaitu saat listrik belum masuk desa. Untuk mengejar orderan yang cukup banyak, sang kakak menjahit sampai larut malam di bawah penerangan lampu Petromax, tiba tiba dari belakang tercium bau rokok kretek, kemudian tanpa ada angin yang berhembus, nyala lampu tiba tiba meredup sampai hampir padam, kemudian menyala lagi terang, semikian terjadi beberapa kali. Sadar bahwa ada lelembut yang sedang ‘mengerjai’ dirinya, maka sang kakak berucap seakan berkata kepada seseorang di dekatnya dengan bahasa Jawa ” Wong podho golek penguripan dhewe dhewe mbok ojo saling ganggu ono” (artinya Kita khan mencari penghidupan masing masing, alangkah baiknya tidak salig mengganggu). Tak lama kemudian gangguan itu berhenti, bau rokok tak tercium lagi, di kejauhan di atas rumpun bambu yang tinggi tampak satu titik merah menyala, seakan ada seseorang menghisap rokok di sana.
Tetapi bagaimana pun mereka masih sangat takut untuk berhadapan langsung dengan makhluk halus itu. Suatu sore menjelang Maghrib, kala sang kakak sedang mandi, sang adik telah bersantai duduk di depan teras rumah dengan dua gelas ’teh- hangat di sampingnya dan sepiring pisang goreng mengepul harum. Saat akan diambil potongan kedua pisang goreng, tiba tiba dilihatnya ada tangan hitam berbulu besar berkuku hitam panjang ikut mengambil pisang goreng di atas piring. Sang adik tak berani menoleh ke sebelah menatap wajah makhluk itu, dia hanya melirik ke bawah, terlihat dua kaki besar berbulu hitam lebat, mirip sekali gorila.Dalam kediaman kedua makhluk itu makan pisang goreng. Sampai tersisa dua potong terakhir pisang di atas piring, sang adik pun berkata “Kari loro yo, kon sithok aku sithok” ( Tinggal dua yah, kamu sepotong aku sepotong).
Setelah itu diraihnya satu potong pisang, dikumpulkan segenap tenaga untuk berdiri di atas kedua kakinya yang lemas itu dan berlari sekuat tenaga masuk rumah dan membanting serta mengunci pintu.
Ini adalah pertemuan terdekat antar mereka dengan para genderuwo, Closest Encounter – seperti disebut Agent Scully dalam serial TV- The X-files.
Kisah ini diceritakan oleh seorang teman yang masih saudara jauh dari empunya rumah, jika ada yang tidak percaya ia bersedia menunjukkan lokasi yang dimaksud, tentunya dengan resiko ditanggung sendiri……
Mojoville, October 2002
Tuesday, July 31, 2007
Saturday, July 28, 2007
Suatu siang di kantor

Siang ini sungguh berbeda dengan siang-siang lain di kantor.
Mendung gelap menggayut, menyelimuti angkasa, siap sewaktu-waktu menumpah ruahkan butiran air yang sudah sarat dikandungnya. Sang mentari seakan mengambil cuti dengan tidak menampakkan diri sejak pagi tadi.
Jumat siang ini sungguh sunyi, dua rekan kerja telah meninggalkan meja mereka begitu bel berbunyi. Pastinya pergi untuk sholat, sementara seorang rekan pulang ke rumah untuk makan siang.
Kuteguk minuman diet yang kubuat pagi tadi.
Dengan bekal sedikit keteguhan hati sudah dua hari kulewati tanpa menelan makanan padat, hanya dengan beberapa botol minuman diet alami, yang kubuat sendiri setelah tergoda hasil nyata seorang teman yang menjadi sangat langsing setelah memraktekkannya.
Lampu kantor yang dipadamkan oleh teman-teman seperti kebiasaan setiap saat istirahat, siang ini terasa sangat gelap.
Nyala monitor terang, sementara aku baris demi baris membaca celotehan teman-teman sesama alumni SMA yang saling bersambut di homepage ‘khusus alumni’, di mana ada juga guru-guru berjiwa muda yang ikutan nimbrung.
Di tengah jari jari iseng ini mengetik reply pada suatu topik tentang pembahasan hantu di ruang tidur anak seorang kakak kelas, reply yang tak pernah kukira tak jadi kupost.
Karena tiba-tiba suatu hembusan udara dingin bertiup ke leher bagian belakangku.
Pasti bukanlah AC yang sedari tadi menderu stabil.
Wangi kembang menyergap lubang hidung, mengingatkanku pada bau khas setiap kali kulewat di depan stand penjual bunga dan kain kafan di sebelah pasar itu.
Otak ini segera bereaksi menyuruh kedua kaki secepatnya beranjak untuk meninggalkan kantor kecil ini, insting mencari tempat di mana masih ada orang lain, setidaknya di luar pasti ada beberapa office boy atau karyawan lain yang sedang lalu lalang di dekat tangga.
Tetapi kaki dan badan seakan membeku kaku tidak menuruti perintah.
Dari sudut lemari muncul sosok putih, berambut panjang sebahu, melayang mendekat.
Iya benar, melayang, Karena ia tidak perlu berjalan berbelok di sela meja dan kursi, melainkan melintas di atasnya.
Dan ia mengarah tepat ke arahku.
Tak jelas nampak mukanya.
Tetapi sesuatu membuatku tahu makhluk itu adalah seorang perempuan dan ia tidak bermaksud baik.
Dengan cepat kuteringat sepintas cerita beberapa rekan bagian IT yang kerap lembur sampai malam bahwa beberapa orang sempat berpapasan dengan bayangan putih yang melintas dari kamar mandi dan masuk ke dalam kantor.
Ya Tuhan, berarti benar yang mereka maksudkan adalah kantor ini.
Sementara makhluk itu bergerak pelan tapi pasti ke arahku, mataku menatap nanar ke depan masih tidak dapat melihat jelas muka pucatnya yang tertutup oleh rambut panjang beriap-riap. Tapi yang pasti yang kulihat sebuah seringai mulut yang penuh dengan gigi kuning.
Tuk tuk tuk….sialan ternyata bunyi gemeretuk gigiku sendiri yang gemetar tak keruan.
Keringat dingin membasahi kening dan mulai menetes di mukaku yang sama pucatnya dengan warna laptop ini sekarang.
Tinggal jarak satu meja saja, makhluk yang telah mengulurkan tangan itu pasti bisa meraih diriku yang terdiam, tak bergerak terbelenggu oleh ketakutan yang amat sangat.
Tiba-tiba makhluk itu terhenti, berhenti di depan meja rekanku yang sedang pulang makan siang. Ia menatap tajam ke atas meja dan mulai mundur perlahan.
Tak terasa pandanganku ikut melihat atas meja. Tampak sebuah gelang batu berwarna hitam kekuningan yang biasa dipakai oleh temanku, tertinggal di atas meja. Memang waktu mengetik gelang batu itu biasa dilepasnya karena berbenturan dengan kaca alas meja. Siang itu pasti ia lupa memakainya pulang.
Makhluk itu terus mundur tanpa melepaskan pandangannya ke gelang itu.
Diriku yang sudah tidak menjadi obyek utama serangannya sudah mulai bisa bergerak, kaki tangan yang tadinya kaku mulai terasa hangat dan bisa digerakkan. Ternyata pandangan makhluk itu yang seakan menghipnotis, mengikat erat seluruh tubuh ini.
Makhluk itu mundur lebih cepat dari pergerakan majunya tadi.
Sebentar ia pun masuk ke ujung gelap ruangan.
Bersamaan dengan itu pintu terbuka dan kedua rekan kerja yang baru kembali dari sembahyang berjalan masuk.
Melihatku wajahku yang pucat pasi, mereka dengan cepat membuat secangkir teh manis panas untukku.
Baru kemudian bibir ini mampu bergerak dan bercerita kepada mereka.
Setelah kutanya pada empunya gelang, gelang macam apakah itu penolongku itu. Katanya hanyalah gelang biasa dari batu tiger eye, hanya saja sering digunakan sebagai tasbih, jika sedang menganggur, batu-batu itu diputarnya sambil menggumamkan mantra pujian.
Mungkin itulah, yang menyelamatkanku siang itu.
Tetapi yang pasti akan butuh waktu lama sekali sebelum aku berani sendirian di ruang kantor ini.
Mojoville, July 27, 2007.
Monday, July 23, 2007
Make a memory
Malam ini kuakan tulis semua cerita yang aku bisa sebelum kutertidur.
Kubayangkan, setiap cerita yang kutulis akan dimuat oleh koran-koran terkemuka yang biasanya memuat cerpen cerpen para sastrawan yang jarang bisa dimengerti oleh para pembaca.
Seekor nyamuk sialan masih terbang melenggang santai di depan mata. Tangan yang sibuk bergemelitik di atas keyboard tak cukup cepat utk kuangkat dan kuhantamkan ke arahnya.
Lagu Bon jovi – Make a Memory, yang baru, setidaknya yang baru kukenal mengalun sendu dari earphone memasuki kepalaku seakan tak mau keluar lagi. Menjadi panduan mimpi indah, nanti , nanti jika sudah bisa kukuak mimpi, menyelam dalam tidur yang tak kunjung tiba.
If you don’t know if you should stay.
and if you don’t say what’s on your mind.
………..
If you go now, I understand
Sungguh sangat terlambat bagiku sekarang untuk mengetahui kabar lagu lagu baru yang lagi ngetop di papan billboard dari desa terpencil seperti ini. Di tiap saat kembali ke sini aku merasa melakukan perjalanan waktu kembali ke sepuluh tahun silam, di mana masih banyak sepeda sepeda berkeliaran di jalan, dan memang seperti itulah di sini.
Nyamuk sialan itu lewat lagi, tanganku yang lagi kesurupan tidak bisa berhenti mengetik, secara reflek melakukan dua kali pukulan belalang mengepit mangsa, tanpa hasil.
Terpaksa harus kuhentikan tulisan yang tak keruan juntrungannya ini, berburu makhluk penghisap darah sialan yang masih terbang bebas merdeka (at least for a while), jika tidak nanti malam aku tak kan dapat tidur dengan tenang … atau nanti pagi…
You wanna make a memory……
Bon jovi…still has it.
Oddiez.
Two minutes to dreaming.
July 22, 2007
Kubayangkan, setiap cerita yang kutulis akan dimuat oleh koran-koran terkemuka yang biasanya memuat cerpen cerpen para sastrawan yang jarang bisa dimengerti oleh para pembaca.
Seekor nyamuk sialan masih terbang melenggang santai di depan mata. Tangan yang sibuk bergemelitik di atas keyboard tak cukup cepat utk kuangkat dan kuhantamkan ke arahnya.
Lagu Bon jovi – Make a Memory, yang baru, setidaknya yang baru kukenal mengalun sendu dari earphone memasuki kepalaku seakan tak mau keluar lagi. Menjadi panduan mimpi indah, nanti , nanti jika sudah bisa kukuak mimpi, menyelam dalam tidur yang tak kunjung tiba.
If you don’t know if you should stay.
and if you don’t say what’s on your mind.
………..
If you go now, I understand
Sungguh sangat terlambat bagiku sekarang untuk mengetahui kabar lagu lagu baru yang lagi ngetop di papan billboard dari desa terpencil seperti ini. Di tiap saat kembali ke sini aku merasa melakukan perjalanan waktu kembali ke sepuluh tahun silam, di mana masih banyak sepeda sepeda berkeliaran di jalan, dan memang seperti itulah di sini.
Nyamuk sialan itu lewat lagi, tanganku yang lagi kesurupan tidak bisa berhenti mengetik, secara reflek melakukan dua kali pukulan belalang mengepit mangsa, tanpa hasil.
Terpaksa harus kuhentikan tulisan yang tak keruan juntrungannya ini, berburu makhluk penghisap darah sialan yang masih terbang bebas merdeka (at least for a while), jika tidak nanti malam aku tak kan dapat tidur dengan tenang … atau nanti pagi…
You wanna make a memory……
Bon jovi…still has it.
Oddiez.
Two minutes to dreaming.
July 22, 2007
Persahabatan jari.
Ujung-ujung jari tanganku terasa hangat, dengan sedikit rasa kesemutan. Jelas terasa karena berapa tegukan VSOP yang baru membasahi kerongkonganku ini.
Tapi yang penting sekarang mereka sudah bisa dengan tanpa canggung menari-nari lincah di atas keyboard putih, di laptopku yang juga serba putih ini.
Ugh, bagaimana mungkin aku menjadi seperti yang diceritakan oleh penulis kesayanganku dalam salah satu novelnya, tentang seorang penulis yang tidak bisa lagi menulis setelah ditinggal mati oleh istrinya.
Karena aku sama sekali bukan seorang penulis, dan apalagi belum ditinggal mati oleh istri, haha.
Aku hanya seorang pemimpi yang mencoba menuliskan impiannya, yang sekarang kehabisan ide atau inspirasi atau apapun yang membuatku menulis.
Padahal dari dulu dengan mudah segala isi pikiran dapat kutumpahkan ke dalam tulisan, sehingga kapasitas storage otak dapat kembali kosong untuk pikiran baru yang tak hentinya muncul bak tauge tumbuh dari kacang ijo.
Atau mungkin dengan laptop baru ini, nuansa menulis menjadi hilang, karena aku menjadi mengetik dibandingkan dulu menulis. Menulis di kertas putih, halaman kebalikan dari dokumen-dokumen kerja yang sudah tak terpakai lagi. Yang nanti jika ada waktu baru kuketik ulang dan kusimpan ke dalam file file yang menumpuk usang di salah satu folder kuno di sudut sempit harddisk, di sela gunungan file file pekerjaan yang nampaknya jauh lebih penting.
Pasti bukan karena minuman ini.
Karena di malam-malam lain, berkali lipat dari dosis yang kugelegak sekarang, masih tidak membuatku mampu mulai memencetkan jari-jari tanganku di atas tuts tuts perawan keyboard ini dan mengetikkan sebuah kalimat yang mempunyai arti,
Mungkin malam ini, kali pertama para jari mulai mengulurkan tanda persahabatan dengan para tuts keyboard sekalian. Dan para tuts membuka hati membiarkan para jari menari dengan lembut di atas mereka untuk menuliskan apa saja yang dipikir oleh otak, tak peduli itu berarti atau tidak.
Semoga persahabatan antara otak , para jari, tuts dan laptop dimulai dengan baik dan berlangsung dengan langgeng sehingga ide ide gila sang otak dapat tertumpahkan di dalam file-file bulukan di sudut gelap folder terkucil.
OddiezZ
Mojoville
July 22, 2007
Sleepless night.
Tapi yang penting sekarang mereka sudah bisa dengan tanpa canggung menari-nari lincah di atas keyboard putih, di laptopku yang juga serba putih ini.
Ugh, bagaimana mungkin aku menjadi seperti yang diceritakan oleh penulis kesayanganku dalam salah satu novelnya, tentang seorang penulis yang tidak bisa lagi menulis setelah ditinggal mati oleh istrinya.
Karena aku sama sekali bukan seorang penulis, dan apalagi belum ditinggal mati oleh istri, haha.
Aku hanya seorang pemimpi yang mencoba menuliskan impiannya, yang sekarang kehabisan ide atau inspirasi atau apapun yang membuatku menulis.
Padahal dari dulu dengan mudah segala isi pikiran dapat kutumpahkan ke dalam tulisan, sehingga kapasitas storage otak dapat kembali kosong untuk pikiran baru yang tak hentinya muncul bak tauge tumbuh dari kacang ijo.
Atau mungkin dengan laptop baru ini, nuansa menulis menjadi hilang, karena aku menjadi mengetik dibandingkan dulu menulis. Menulis di kertas putih, halaman kebalikan dari dokumen-dokumen kerja yang sudah tak terpakai lagi. Yang nanti jika ada waktu baru kuketik ulang dan kusimpan ke dalam file file yang menumpuk usang di salah satu folder kuno di sudut sempit harddisk, di sela gunungan file file pekerjaan yang nampaknya jauh lebih penting.
Pasti bukan karena minuman ini.
Karena di malam-malam lain, berkali lipat dari dosis yang kugelegak sekarang, masih tidak membuatku mampu mulai memencetkan jari-jari tanganku di atas tuts tuts perawan keyboard ini dan mengetikkan sebuah kalimat yang mempunyai arti,
Mungkin malam ini, kali pertama para jari mulai mengulurkan tanda persahabatan dengan para tuts keyboard sekalian. Dan para tuts membuka hati membiarkan para jari menari dengan lembut di atas mereka untuk menuliskan apa saja yang dipikir oleh otak, tak peduli itu berarti atau tidak.
Semoga persahabatan antara otak , para jari, tuts dan laptop dimulai dengan baik dan berlangsung dengan langgeng sehingga ide ide gila sang otak dapat tertumpahkan di dalam file-file bulukan di sudut gelap folder terkucil.
OddiezZ
Mojoville
July 22, 2007
Sleepless night.
Frozen heart
I frozed my heart once.
At least I think I did.
A thick layer of ice should protect it,
from anything or anyone that could hurt it.
Even though I never felt happiness too.
It melts..
I can feel it,
the ice is certainly melting now.
Someone or something warm must get too close.
Too late to avoid.
I can feel the pain again.
Tears can run down again wetting my cheeks.
Though chuckles and big grins also appear sometimes,
exposing my teeth and my merry heart.
And suddenly I can start to write again.
I realized….all this time.
It’s only recess time.
Before the life goes on, and I am still in it.
With bitter pain and torture….
and sweet love and caring..
Have to train this old heart again.
To recover from its numbness
To feel and live again….. once more.
Oddz.
Mojoville, Sunday night,
22 July 2007
At least I think I did.
A thick layer of ice should protect it,
from anything or anyone that could hurt it.
Even though I never felt happiness too.
It melts..
I can feel it,
the ice is certainly melting now.
Someone or something warm must get too close.
Too late to avoid.
I can feel the pain again.
Tears can run down again wetting my cheeks.
Though chuckles and big grins also appear sometimes,
exposing my teeth and my merry heart.
And suddenly I can start to write again.
I realized….all this time.
It’s only recess time.
Before the life goes on, and I am still in it.
With bitter pain and torture….
and sweet love and caring..
Have to train this old heart again.
To recover from its numbness
To feel and live again….. once more.
Oddz.
Mojoville, Sunday night,
22 July 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)